Surabaya – Zoonosis, bukan Cuma sebuah wacana semata melainkan ancaman yang cukup serius dalam dunia kesehatan. Arus globalisasi yang ada seakan semakin mempercepat penyebaran suatu penyakit zoonosis baik itu antar daerah, negara atau bahkan benua hanya dalam waktu beberapa jam.
Zoonosis merupakan penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia atau dari manusia ke hewan. Saat ini, kontak antara manusia dan hewan dirasakan semakin intensif sehingga penularan penyakit pun akan semakin mudah. Kasus zoonosis yang merebak saat ini, sebagian besar bukanlah kasus baru melainkan wabah lama yang kemudian muncul kembali atau yang biasa disebut re-emerging zoonosis. karena itulah diperlukan suatu strategy baru yang lebih ampuh untuk mengontrol dan mencegah wabah zoonosis.
Seminar Internasional yang bertajuk “New Strategies for the Control and Prevention of Zoonotic Disease” berlangsung selama dua hari mulai tanggal 22-23 Juni 2010 yang mengundang beberapa ahli zoonosis dari luar negeri diantaranya adalah Mr. Mustafa Bala Abubakar., DVM dari Universitas Maiduguri, Nigeria, Mr. Zamri Saad dan juga Mr. Regis Vialle yang merupakan bioengineering dari perusahaan vaksin ‘SEPPIC’. Selain itu, pembicara dalam seminar ini juga berasal dari FKH UNAIR sendiri seperti Dr. Suwarno.,M.Si.,DVM , Prof. Dr. Fedik A Rantam.,DVM dan Sugiarto.,DVM serta Laksmi Wulandari.,dr dan Prof Yoes Prijatna Bastar,dr dari FK UNAIR.
“ Kita telah mengalami peningkatan dalam produksi vaksin dan antigen. Saya melihat tingginya antusiasme dari peserta untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang perkembangan zoonosis” ujar Prof. Dr.H. Romziah Shidiq.,DVM, dekan FKH UNAIR, dalam sambutannya.
Bertemunya para ahli dalam seminar ini mengerucutkan bahwa metode vaksinasi dirasa kurang efektif dalam menaggulangi wabah zoonosis. Bahkan Sugiarto.,DVM menyatakan, semakin besar jumlah vaksin yang didistribusikan ternyata tidak mengikis kasus rabies pada hewan, yang terjadi justru peningkatan jumlah kasus rabies yang ditemukan. Hal ini terjadi karena pemberian vaksin kepada seekor anjing hanya akan meningkatkan kekebalan sesaat, selanjutnya anjing akan bereproduksi dimana kekebalan keturunannya terhadap rabies akan semakin turun.
Rabies sendiri, perkembangannya di Indonesia dirasa sangat cepat. Di pulau Bali misalnya, Rabies baru masuk ke pulau Bali pada bulan Oktober 2008, tapi pada bulan Februari 2010, hanya tinggal dua provinsi saja yang bebas dari rabies. Setidaknya, saat ini, Pulau Irian jaya masih dinyatakan bebas dari rabies, meski begitu pulau-pulau disekitarnya seperti Nias, NTT, Bali dan Maluku telah dinyatakan sebagai daerah endemic rabies. Yang lebih mengejutkan lagi adalah ditemukannya fakta bahwa terdapat perbedaan jenis virus rabies jika virus itu meluas ke daerah yang berbeda. Artinya, virus rabies mengalami mutasi dalam tiap penyebarannya dari satu daerah ke daerah lain sedangkan pada Host yang berebeda tidak ditemukan perbedaan jenis virus.
Meski begitu, ada satu kabar baik yang diungkapkan oleh Dr.Suwarno.,M.Si.,DVM yang menyatakan bahwa kemungkinan besar Virus Sulawesi ( baca: virus rabies di Sulawesi) yang telah diisolasi dapat menggantikan virus Pasteur untuk dijadikan bahan vaksin.
Selain rabies, Zoonosis yang sempat ‘booming’ adalah avian dan swine Influenza . Mewabahnya avian influenza di Indonesia ditengarai karena factor sanitasi yang cukup rendah di peternakan-peternakan unggas. Di Surabaya , sampai saat ini kasus Avian Influenza telah mencapai 35 kasus diantaranya terdapat 15 kasus yang termasuk strong suspect. Sementara itu, di Nigeria, Afrika, seperti yang diungkapkan oleh Mr. Mustafa Bala Abubakar, Penyebaran Avian Influenza ke Negara ini terjadi karena Nigeria termasuk dalam jalur imigrasi yang dilewati oleh burung-burung liar, terutama dari Finlandia dan Spanyol.
Di Malaysia, wabah zoonosis yang sekarang menjadi wacana adalah penyakit Brucelosis. Penyakit ini terbilang baru di Malaysia. Masuknya Brucelosis ke Malaysia ini diduga melalui ternak ruminansia yang mulai diimpor Malaysia sejak tahun 2006. Konsep penanganan wabah ini dibagi menjadi tiga tahapan yakni,prevention, eradication dan control. Sampai saat ini, diagnosa Brucellosis menggunakan metode indirect ELISA dan Comparizing ELISA.
Merebaknya wabah zoonosis di beberapa Negara di dunia terjadi karena kurangnya pencegahan dan pengendalian penyebaran penyakit zoonosis. Di Indonesia, hal ini didukung dengan keadaan geografisnya dan culture masyarakat Indonesia itu sendiri. Menurut Sugiarto.,DVM, sebenarnya saat ini tidak ada strategy baru untuk menanggulangi wabah zoonosis, yang ada hanya strategi lama yang dianggap masih cukup efektif untuk mencegah dan mengendalikan penyebaran zoonosis.
“memintarkan dokter hewan dan bagaimana cara memintarkan masyarakat untuk memanfaatkan dokter hewan”, tutur Sugiarto.,DVM dalam penjelasannya tentang strategi untuk mengatasi wabah zoonosis.
Mempromosikan diri kita sebagai seorang veteriner agar masyarakat bisa memanfaatkan profesi veteriner dianggap sebagai langkah yang cukup efektif untuk saat ini. Mengingat bahwa meluasnya wabah Zoonosis di Indonesia terjadi karena masyarakat terlalu menganggap ‘enteng’ penyakit pada hewan dan secara tidak langsung juga menganggap remeh profesi veteriner itu sendiri.
MORE